Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Apakah Tips Dakwah menggunakan metode I B D A B I N A F S I K akan sukses ?

 Salah satu tips sukses dakwah adalah penerapan prinsip ibda binafsi dalam berdakwah artinya….

https://www.timelinenews.site/

 

Adalah sudah menjadi fitrah bahwa manusia itu punya obsesi. Setiap orang punya keinginan dan harapan yang ingin ia capai dalam kehidupannya. Setumpuk keinginan dan idealisme untuk mengubah hal-hal yang ia ingin dalam perjalanan hidupnya menuju perubahan yang bermanfaat. Dan mungkin termasuk kita sebagian dari contoh tersebut.

Namun kadang banyak diantara kita yang ingin mengubah orientasi yang salah tapi justru kitalah yang diam dan tertinggal dalam orientasi yang salah tersebut. Kita yang berkoar-koar pada perubahan dan berusaha untuk menjadi makelar kebaikan dan pembaharu sistem yang pincang. Tapi di sisi lain kadang kita terjebak dalam kemandekan tersebut.

Belajar dari Rasulullah

Ibda binafsik bukan hanya sekedar pepesan kosong. Tapi telah banyak orang-orang yang melakukannya. Dan ternyata orang-orang yang mengamalkannya adalah orang-orang besar dan agen perubahan dunia.

Setidaknya kita bisa mencontoh salah satu agen perubahan yang paling berpengaruh dan mempunyai pengikut di seluruh penjuru dunia. Dengannya kita mengecap dan merasakan dampak dari perubahan itu sendiri. Siapa lagi kalau bukan Rasulullah SAW. Darinya kita bisa belajar bagaimana dahsyatnya ibda binafsik itu. Karena ibda’ binafsik itu adalah kepribadiannya sekaligus ajarannya. Bahkan ada ayat tersendiri yang menyebutkan hal ini.

Allah berfiman dalam surah as-Shaf ayat 2-3.
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. (itu) sangatlah dibenci di sisi allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Ayat yang sama juga bisa kita lihat di surah al Baqarah: 44
“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan,sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri., padalah kamu membaca kitab (taurat) tidakkah kamu mengerti?”

Dalam ayat ini secara tidak langsung Allah menyindir orang-orang yang tidak ibda’ bi nafsik. Dalam artian, kita sudah seharusnya beramar ma’ruf terhadap manusia di samping kewajiban kita untuk mengamalkan apa yang kita sampaikan tersebut. Maka memulai dari kesadaran terhadap diri sendiri adalah sesuatu hal yang patut kita laksanakan. Bukankah ada pepatah bijak para ulama yang mengatakan “dakwah bil hal –dengan teladan tingkah laku– adalah dakwah yang paling efektif dan sangat mengena.” Walau pun begitu kita tidak memungkiri kewajiban dakwah bil lisan. Karena Rasulullah dan para sahabat pun melaksanakan kedua hal tersebut dalam menyebarkan panji-panji Islam di muka bumi.

 Yang menjadi permasalahannya, banyak di antara kita yang begitu sering cuap-cuap tentang kebaikan dan memotivasi orang lain untuk bersegera dalam beramal tapi tanpa sadar dia jarang melakukannya atau bahkan mungkin tidak pernah sama sekali. Berkata-kata dengan bahasa yang indah hanya karena ingin pujian semata. Berorasi di podium hanya untuk ketenaran belaka. Tanpa pernah meresapi substansi dari apa yang disampaikannya.

 

Dalam surah As-Saf ayat 2 Allah SWT bertanya kepada mereka orang-orang beriman yang mengatakan sesuatu namun ia sendiri tidak mengerjakan apa yang ia katakana tersebut. Kemudian lanjut pada ayat 3, Allah SWT menegaskan bahwa Ia membenci teramat sangat mereka yang mengatakan sesuatu hal namun tidak ia kerjakan.

Selain surah As-Saff, dalam Surah Al-Baqrah ayat 44 Allah SWT juga berfirman mengenai orang-orang yang menyuruh orang lain melalakukan kebaktian (ibadah) namun dirinya sendiri tidak melakukan hal yang ia serukan pada orang lain.

 

Aktivitas  yang dominan dilakukan para mubaligh/da’i adalah dakwah yang banyak menggunakan ucapan sehingga ucapan itu harus diselaraskan dengan perbuatan. Karena ucapan yang tidak sesuai dengan perbuatan dan kenyataan adalah dusta yang merupakan sifat orang munafik. Sehingga kejujuran adalah modal utama berikutnya bagi para mubaligh/da’i. Dan kejujuran harus dilakukan para mubaligh/da’i dalam dakwahnya. Jujur dalam menyampaikan risalah Islam, jujur dalam bersikap dan jujur dalam berkata-kata. Kejujuran dalam berkata dan bersikap merupakan keharusan bagi setiap muslim apalagi para aktivis  dakwah yang menyampaikan nilai-nilai Islam. Mubaligh/da’i  tidak boleh memiliki standar ganda dalam perkataan dan sikap. Karena standar ganda akan merusak barisan dakwah dan menggagalkan perjuangannya.

sebagai penutup admin sampaikan :

terimakasih sudah membaca artiikel tersebut semoga bermanfaat dan menambah wawasan pembaca sekalian 

 

Post a Comment for "Apakah Tips Dakwah menggunakan metode I B D A B I N A F S I K akan sukses ?"